Minggu, 12 Juni 2011

Cerita Jataka "TISSA THERA"

3.   TISSA      THERA.

"la mencaciku.................." Ajaran Dhamma ini diberikan oleh Sang Buddha pada
waktu beliau berdiam di Jetavana, sehubungan dengan Tissa Thera.

Kiranya bhikkhu ini adalah anak kakak perempuan dari ayah pangeran Siddatta. la telah berumur lanjut pada waktu menjadi bhikkhu dan amat gemuk. la senang dengan pemberian dan pengormatan dari umat, civara (jubah)nya selalu licin dan rapi, ia selalu duduk ditengah-tengah  Dhamma Sâla.
Pada suatu hari beberapa bhikkhu (dari daerah lain ) datang berkunjung pada Sang Buddha, dan mereka mengira Bhikkhu Tissa adalah seorang Mahâ Thera, lalu mereka memohon untuk mendapat kesempatan membantunya, memberikan beberapa macam kebutuhan antaranya adalah minyak untuk menggosok kaki." Bhikkhu Tissa hanya berdiam diri saja. Selanjutnya seorang bhikkhu muda bertanya kepadanya : "Sudah berapa vassa-kah bhante ?"
"Belum se-vassa-pun," jawab bhikkhu Tissa, saya telah berumur lanjut pada waktu menjadi bhikkhu."
Kata bhikkhu muda :"Kau bhikkhu tua yang tidak tahu aturan, kau terlalu bangga dengan dirimu sendiri. Kau berlagak seperti para Mahâ Thera, tetapi ternyata kau tidak mengetahui apa-apa tentang Vinaya (peraturan-kebhikkhuan) Sewaktu mereka (bhikkhu vassanya lebih banyak) melakukan pelayanan padamu, kau diam saja. Lagi pula kau tidak menunjukkan, penyesalan sedikitpun atas pelanggaranmu." Setelah berkata demikian ia menggesek-gesekkan jarinya.
Setelah mengetahui tingkatan atau posisi dari pada bhikkhu-bhikkhu tersebut, bhikkhu Tissa bertanya kepada mereka : "Siapakah yang mau kamu ketemui ?"
"Kami datang untuk bertemu dengan Sang Buddha."
"Saya akan lenyapkan kesombongan kamu," sehabis berkata, bhikkhu Tissa pergi menemui Sang Buddha, menangis, sedih dan berduka sekali.
Sang Buddha bertanya kepadanya : " Mengapakah kau datang menemui KU, dengan sedih, berduka serta air mata bercucuran ?"
Bhikkhu-bhikkhu tadi berkata pada teman-temannya : "Bila ia pergi sendiri, maka ia akan membuat persoalan." Demikianlah mereka pergi dengan mengikutinya, menghormat dengan bernamaskara kepada Sang Buddha, lalu duduk dengan tenang dan tertib pada salah satu sisi.
Bhikkhu   Tissa   menjawab   pertanyaan   Sang   Buddha  sebagai   berikut   :
"Para bhikkhu ini menghina saya."
"Tetapi dimanakah kau berada pada waktu itu ?"
"Saya duduk ditengah-tengah  Dhamma-Sâla, Bhante."
"Apakah kau melihat ketika bhikkhu-bhikkhu ini datang ?"
"Ya, saya melijhat mereka, Bhante."
"Apakah kau bangkit dari duduk, dan pergi menemui mereka ?"
"Tidak, Bhante."
"Apakah   kau   meminta   untuk   membawakan   perlengkapan   mereka?"
"Tidak, Bhante, saya tidak berbuat demikian."
"Apakah kau berusaha membantu dan menyiapkan air untuk mereka minum?"
"Tidak, Bhante, saya tidak melakukan hal ini pula."
"Apakah kau menyiapkan tempat duduk dan menggosok kaki mereka?"
"Tidak, Bhante."
"Tissa, engkau seharusnya melakukan semua kewajiban ini bagi bhikkhu-bhikkhu yang lebih tua ( massa vassanya ), bagi dia yang tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban ini, ia tak pantas untuk duduk ditengah-tengah Dhamma Sala. Engkau sendirilah yang patut dicela, mintalah maaf kepada mereka."
"Tetapi mereka menghina saya, saya tidak mau meminta maaf kepada mereka."
"Tissa, jangan bersikap demikian, engkau sendiri yang patut dicela, mintalah maaf kepada mereka."
"Saya tidak akan minta maaf kepada mereka Bhante."
Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha : "la adalah bhikkhu yang keras kepala."
Sang Budha menjawab : "Para bhikkhu, ini bukan pertama kali ia keras kepala, tetapi pada kehidupan yang lampaupun ia telah keras-kepala."
"Kami tahu tentang keras-kepalanya sekarang, Bhante, tetapi apakah yang telah ia lakukan pada kehidupannya yang lampau ?"
"Baiklah, para bhikkhu, dengarlah," kata Sang Buddha. Kemudian Beliau menceriterakan hal tersebut sebagai berikut ini :

CERITERA YANG LAMPAU :

DEVALA DAN NĀRADA.

Tersebutlah dahulu ada seorang raja yang memerintah di Benares, disana ada seorang pertapa bernama Devala yang berdiam di pedalaman Himalaya selama delapan bulan, dan berkeinginan untuk berdiam didekat kota selama empat bulan selama musim hujan ( vassa ), ia sering pergi ke kota dan kembali ke Himalaya dengan membawa garam dan cuka. Pada suatu hari ia datang kekota dan di gerbang kota ia melihat dua orang anak, lalu ia bertanya kepada mereka : "Dimanakah para pertapa bermalam bila mereka. datang ke kota ?"
"Di bangsal pembuat periuk, samana."
Demikianlah Devala pergi ke rumah pembuat periuk, berhenti didepan pintu dan berkata : "Bila tuan menyetujui, saya akan bermalam di bangsalmu."
Pembuat periuk menunjukkan bangsal kepadanya dan berkata : "Saya takkan melakukan apa-apa dibangsal malam ini, bangsal itu luas, bila anda mau, silahkan bermalam disitu, samana."
Tak berapa lama setelah Devala masuk dan duduk dalam bangsal, seorang pertapa bernama Nārada baru saja kembali dari Himalaya, datang menanyakan tempat bermalam kepada pembuat periuk.
Pembuat periuk berpikir : "Pertapa yang tiba pertama mungkin tidak mau bermalam bersama-sama dengannya, saya akan membebaskan diriku dari persoalan ini. "Lalu ia berkata kepada petapa yang baru tiba : "Samana, bila petapa yang pertama menyetujuinya, bermalamlah dengan seizinnya."
Kemudian Nārada mendapatkan Devala dan berkata : "Guru, bila anda tidak berkeberatan, saya akan bermalam di sini untuk semalam saja."
Devala menjawab : "Bangsal adalah luas, maka datanglah bermalam pada bagian yang lain."
Maka Narada masuk dan duduk di belakang Devala. Mereka berdua saling bersalam-salaman.
Pada waktu akan tidur, Nārada memperhatikan baik-baik tempat dimana Devala berbaring, letak pintu dan kemudian ia membaringkan dirinya. Tetapi ketika Devala akan tidur, ia tidak berbaring ditempatnya melainkan ia berbaring melintang didepan pintu. Akibatnya adalah sebagai berikut ; ketika Nārada ditengah malam hendak keluar maka tanpa sengaja ia menginjak kucir (rambut) Devala. Karena hal ini Devala berteriak : "Siapakah yang menginjak kucirku ?"
Nārada menjawab : "Saya, guru. "
"Petapa palsu, kata Devala, kau datang dari hutan dan menginjak kucirku"
"Guru, saya tidak tahu bahwa kau berbaring disini, maafkan saya."
Nārada pergi keluar dengan meninggalkan Devala yang menangis bagaikan dadanya akan pecah.
Devala berpikir pula : "Saya akan menyebabkan ia menginjak saya bilamana ia masuk." Jadi ia mengganti posisinya, dengan menempatkan kepalanya pada tempat bagian kakinya tadi.
Ketika Nārada akan masuk, ia berpikir : "Tadi saya mengganggu guru sekarang saya akan berjalan melalui bagian kakinya." Akibatnya, ketika Nārada masuk, ia menginjak leher Devala. Karena itulah Devala berteriak :
"Siapa itu ?"
Nārada menjawab : "Saya, guru."
"Kau petapa palsu, kata Devala, tadi kau menginjak kucirku dan sekarang leherku, saya akan mengutuk kau."
"Guru, harap jangan mencela saya. Saya tidak mengetahui bila anda tidur dengan posisi begini. Ketika saya mau masuk saya berpikir, ' tadi saya telah melukai guru, sekarang saya akan berjalan melalui bagian kakinya,' maafkan saya."
"Petapa palsu, saya akan mengutuk kau."
"Jangan begitu, guru."
Tetapi Devala tidak mempedulikan kata-kata Nārada, mengutuknya dengan berkata :

"Matahari memiliki seribu sinar dan seratus nyala, melenyapkan kegelapan. Besok, bila matahari terbit, semoga kepalamu terbelah tujuh."

Nārada berkata : "Guru, saya telah katakan bahwa itu bukan salahku. Tetapi walaupun saya telah berkata sebenarnya, kau tetap mengutukku. Maka semoga kepala orang bersalah pecah menjadi tujuh bagian, tetapi bukan kepala dari orang yang tak bersalah. Karena itu Nārada mengatakan kutukan berikut ini :

"Matahari memiliki seribu sinar dan seratus nyala, melenyapkan kegelapan. Besok, bila matahari terbit, semoga kepalamu terbelah tujuh. "

Sesungguhnya   Nārada   mempunyai   kekuatan   batin  dan  dapat     mengetahui kejadian selama delapan puluh kappa; yaitu empat puluh kappa yang lampau dan empat puluh kappa yang akan datang. Lalu ia merenungkan : "Kepala siapakah kutukan ini akan berakibat ? la dapat mengetahui bahwa itu akan terjadi pada Devala, ia merasa kasihan kepadanya, maka ia menggunakan kekuatan batinnya menahan matahari supaya tidak terbit. Ketika matahari tidak terbit, penduduk berkumpul didepan gerbang istana raja dan berseru: "Yang Mulia, matahari tidak terbit, kau adalah raja, buatlah supaya matahari dapat terbit !"
"Raja merenungkan semua perbuatan, ucapan dan pikirannya, tetapi tidak mendapatkan suatu kesalahan, lalu berpikir : "Apakah yang menyebabkannya? "Apakah ada petapa dalam kota ini ?"
"Yang Mulia, tadi malam ada petapa-petapa yang datang ke bangsal pembuat periuk."
Raja segera kesana dengan lampu penerang, mendahului rombongan, memberi hormat kepada Nārada, duduk pada sisi yang lain dengan tertib lalu berkata : "Nārada, penduduk Jambudipa tak dapat melakukan pekerjaan mereka, mengapa dunia ini diliputi kegelapan? Jawablah pertanyaanku ini."
Nārada menceriterakan sebab musababnya. "Karena itulah saya' dikutuk oleh petapa ini," katanya. "Jadi saya mengutuknya pula, saya tidak bersalah, semoga kutukan jatuh pada orang yang bersalah diantara kami berdua," tetapi setelah saya mengutuk dia saya merenungkan bahwa, 'segera setelah matahari terbit, kepala teman saya ini akan pecah menjadi tujuh bagian,' karena sayangku kepadanya maka saya tidak mengizinkan rnatahari itu terbit."
"Tetapi,   petapa, bagaimanakah  ia dapat terlepas dari  marabahaya ini"
"la dapat terlepas dengan memohon maaf padaku."
"Baiklah kalau begitu, minta maaflah padanya," kata raja kepada Devala.
Devala menjawab: "Maharaja, teman ini menginjak kucir rambut dan leherku, saya tidak akan meminta maaf kepada petapa palsu ini."
"Jangan bersikap begitu, minta maaflah padanya petapa."
"Maharaja saya tidak akan minta maaf kepadanya."
"Kepalamu akan pecah menjadi tujuh."
"Walaupun demikian saya tidak akan meminta maaf kepadanya."
"Saya sadari bahwa kau tidak akan meminta maaf atas kehendak sendiri," kata raja. Karena itu raja menyuruh pengawalnya memegang tangan, kaki, perut dan leher, memaksanya    membungkukkan badan bernamaskara dikaki Nārada.
Nārada berkata : "Bangunlah guru; saya memaafkan anda." Dan kata Nārada kepada raja: "Mahâ raja, , karena petapa ini tidak meminta maaf atas kehendak sendiri, maka bawalah dia kesebuah danau yang tak jauh dari kota dan letakkanlah bongkahan tanah liat dikepalanya, dan benamkanlah tubuhnya ke dalam air sampai kelehernya.
Raja berbuat demikian.
Kemudian Nārada berkata kepada Devala : "Guru, saya akan monggunakan iddhi-viddhi (kekuatan batin)-ku supaya matahari terbit. Pada saat itu menyelamlah dalam air, muncullah di tempat lain, dan pergi."
Demikianlah ketika sinar matahari mengenai bongkahan tanah, tanah liat tersebut pecah menjadi tujuh, Devala menyelam dalam air, muncul lagi ditompat yang lain, lalu pergi dengan berlari.
Selesailah ceritera yang lampau.

Setelah Sang Buddha menceriterakan hal ini, Beliau berkata : "Para bhikkhu, pada waktu itu Raja adalah Ananda, Devala adalah Tissa, dan Narada adalah Saya sendiri, dan ketika itu pula ia telah keras kepala." Kemudian Sang Buddha berkata kepada Tissa : "Tissa, bila seorang bhikkhu membiarkan dirinya berpikir, 'karena anu dan itu saya di hina, di pukul, di kalahkan, barang barangku di curi,' maka kebenciannya tidak akan pernah lenyap. Tetapi bila ia tidak berpikir demikian, maka kebenciannya lenyap." Sehabis berkata begitu, Sang Buddha mengucapkan gatha (ayat, Dhammapada) ini :

3,    "Ia mencaci, memukul, mengalahkan dan merampok saya,
Bagi mereka yang membiarkan pikiran ini, maka kebencian tidak akan lenyap."

4.    "Ia menghina, memukul, mengalahkan dan merampok saya,
Bagi   mereka  yang   tidak   mempunyai   pikiran  seperti ini, maka kebenciannya lenyap."


(sumber : YAMAKA VAGGA – SYAIR SYAIR KEMBAR  I.
                 Alih bahasa Bhikkhu Aggabalo
               Diterbitkan oleh Yayasan Dhammadipa-arama (Pebruari 1978)